hobby gw

Posted in 1 on January 8, 2008 by bengkulu25

1. koleksi ikan cupang

2. maen musik

3. maen motor ceper

si cantik dari bengkulu

Posted in ikan hias on January 8, 2008 by bengkulu25

mustardgreenhalfmoon.jpgmemang cantik ikan ini,kareana kecantikannya ikan ini telah menyabet berbagai juara nasional mau pun internasional.

Posted in 1 on January 8, 2008 by bengkulu25

Ada Apa dengan Mocha dan Mochi (Kura-Kura Brasil)?

Posted on Anything.

Mocha dan Mochi itu adalah nama yang diberikan Denita untuk dua Kura-Kura Brasil peliharaan saya. Kura-kura ini saya beli lima bulan yang lalu di sebuah pameran tanaman hias. Sejak dulu sebenarnya saya sudah tertarik untuk memeliharanya, namun baru kesampaian membelinya pada waktu itu. Saya membeli dua ekor kura-kura tersebut seharga 13ribu rupiah + bonus Makuku (makanan kura-kura) + penjelasan bagaimana memelihara kura-kura brasil dengan baik. Saya juga diajarkan cara memilih kura-kura yaitu dengan melihat karapasnya, karapas adalah nama lain tempurung kura-kura. Semakin simetris karapasnya, katanya semakin baik nilai keindahan kura-kura tersebut.

Mocha dan Mochi

Kura-kura Brasil dikenal dengan nama latin Chrysemsy Seripta Sp. berasal dari Amerika Selatan, dan digolongkan sebagai penyu kolam. Jenis yang saya beli adalah jenis Red Ear Slider, yaitu kura-kura yang memiliki ciri dengan guratan merah pada setiap sisi kepalanya, karapasnya berwarna hijau dan terdapat garis-garis kuning yang membentuk pola-pola tertentu. Kura-kura jenis ini bukan binatang langka, mereka sengaja ditangkarkan dan diperdagangkan karena keindahannya dan juga lebih jinak dibandingkan kura-kura jenis lainnya.

Kura-Kura Brasil


Saya membeli Mocha dan Mochi ketika karapas mereka masih berukuran 5 cm. Kini setelah lima bulan, karapasnya sudah mencapai 12 cm sehingga akurium kecil saya tidak cukup lapang untuk tempat bermain mereka berdua. Jadilah ember sebagai tempat pengungsian sementara saat ini, karena saya berencana membuat kolam kecil agar mereka bisa puas bermain. Sayangnya ketika membeli kura-kura, saya tidak tahu mana yang jantan dan betina. Setelah membaca beberapa artikel di internet, ternyata kura-kura yang saya beli adalah jantan semua. Hal ini ditunjukkan dengan kuku jari yang runcing dan kloaka yang jauh dari tempurung.

Kura-Kura Brasil

Mocha dan Mochi pada waktu kecil, sangat senang jika diberi sejenis pelet makan berbentuk bulat dengan merk Makuku yang komposisinya terdiri dari udang, ikan dan beberapa vitamin. Harga makuku cukup murah yaitu 3500 rupiah untuk satu kotaknya. Setelah agak besar, saya memberinya makan dengan yang lebih mewah yaitu Turtle Food ORCA seharga 6000 rupiah. Bentuk pelet ini adalah batangan, sehingga terkadang mereka harus beberapa kali menguyahnya sebelum menelannya. Mocha dan Mochi sangat suka jika saya menyodorkan makanan itu ke mulutnya, mereka dengan sigap merebutnya dari jari saya. Pada bulan ketiga pertumbuhan karapas dan tubuh mereka sangat cepat sekali seiring dengan napsu makannya.

Mocha Kura-Kura Ulet

Saya mengamati bahwa mereka terkadang mengeluarkan suara-suara tertentu jika mereka lapar. Suara mendecit-decit seperti suara tikus, dan itu tidak begitu keras. Selain itu saya juga mengadakan eksperimen seperti yang dilakukan oleh Ivan Pavlov dengan anjingnya. Setiap kali saya ingin memberi mereka makan, saya menggoyang-goyangkan tabung pakan sehingga berbunyi gemerisik. Rupanya eksperimen saya cukup berhasil, Mocha dan Mochi dapat bergerak lebih aktif (bergoyang-goyang di air) ketika saya memberikan stimulus bunyi tabung pakan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa teori belajar Pavlov tentang Classical Conditioning dapat diterapkan juga pada kura-kura. Namun demikian perlu suatu penelitian lebih lanjut, apakah stimulus yang merangsang kura-kura tersebut berasal dari pendengaran atau dari penglihatannya. Kura-kura punya telinga kah?

Dalam fabel (dongeng binatang) mereka digambarkan sebagai binatang yang pendiam, lambat dan sabar. Namun ternyata tidak demikian pada kura-kura yang berumur muda. Mereka adalah binatang periang, suka keributan, dan jarang tidur. Perilaku Mocha dan Mochi mulai berubah setelah tiga bulan saya pelihara. Karapasnya yang besar membuat mereka dapat menampung oksigen lebih banyak sehingga dapat bertahan dalam air lebih lama. Mereka pun menjadi lebih tenang dari sebelumnya, dan jika tidur agak sulit dibangunkan.

Banyak aktivis lingkungan hidup menolak perdagangan dan pemeliharaan kura-kura dengan alasan perdagangan tersebut telah membuat ribuan binatang jenis ini mati prematur. Kematian yang seharusnya tidak terjadi seandainya para pemilik kura-kura tersebut memiliki pengetahuan yang cukup untuk memeliharanya. Sayangnya sebagian besar pembeli kura-kura ini adalah anak-anak kecil, yang terkadang perilaku bermain mereka justru membuat kura-kura tersiksa dan mati secara prematur. Jika Anda memang berniat untuk memelihara kura-kura, mungkin bacaan-bacaan yang juga menjadi referensi saya ini dapat bermanfaat :

Pengenalan Dasar Kura-Kura
Merawat Kura-kura Brazil

Kura-kura Brazil: Fakta dasar dan perawatan kesehatan
Hobby – Pakan Kura-kura Brasil
Usaha Potensial Kura-kura Brasil

Sebulan ini saya sedang kebingungan dengan perilaku Mocha dan Mochi. Mereka mogok makan. Tapi mereka tidak sakit, mereka masih menunjukkan keriangannya berenang di ember. Mereka juga masih semangat untuk berlari dengan cepat jika dilepas di lantai. Saya heran, mereka tidak lagi doyan dengan pakan yang biasanya diberikan. Saya juga sudah mencoba untuk memberikan sayur-sayuran. Namun semuanya itu tidak disentuhnya? Ada apa ya dengan Mocha dan Mochi?

Mochi Berjemur

Apa mereka ingin ganti menu makanan? Apa memang semakin dewasa mereka tidak suka makan? Apa mereka berdua ingin kawin? Atau mereka selama 40 hari ini ingin ikut berpuasa dan berpantang dalam rangka prapaskah? (*saya pernah dengar cerita, beberapa hewan peliharaan memiliki hubungan emosional dengan pemiliknya) Hehe.. Saya masih belum menemukan jawabannya. Adakah pembaca yang dapat membantu saya untuk menemukan penyebab kedua kura-kura saya itu mogok makan?

Posted in 1 on January 8, 2008 by bengkulu25

Bunga Rafflesia Kembali Mekar di Hutan Lindung Bengkulu

 

Bengkulu (ANTARA News) – Sekuntum bunga Rafflesia Arnoldi, bunga khas kebanggaan Provinsi Bengkulu, saat ini mulai mekar di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kemumu di Hutan Lindung Gunung Selatan, Kabupaten Bengkulu Utara.

Kepala Koordinator Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Bengkulu, Anthoni, Rabu, mengatakan berdasarkan laporan masyarakat, pekan lalu ditemukan knop (kuncup) bunga Rafflesia sebesar bola kaki di kawasan obyek wisata tersebut.

“Setelah turun ke lapangan bunga tersebut ternyata siap mekar, dan diperkirakan pada pekan depan akan mekar penuh,” ujarnya.

Bunga Raflesia tersebut berada di pinggir siring (drainase) di kawasan obeyk wisata air terjun Kemumu dengan jarak tempuh lebih kurang dua kilometer dari pinggir jalan raya.

Untuk pengamanan, BKSDA telah memasang pagar dan melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat dan mahasiswa pecinta alam setempat guna melindungi peristiwa yang jarang terjadi itu.

Bunga Rafflesia Di kawasan TWA Kemumu hampir setiap tahun muncul dan biasanya mekar hampir enam bulan sekali.(*)

cupang beredar di tanah jawa

Posted in 1 on January 8, 2008 by bengkulu25

chatik-banget.jpgmustardgreenhalfmoon.jpgct006.jpg

Itulah cara Ricky -panggilan akrabnya – mengagumi hasil kerjanya, mencetak cupang jawara. Bila pagi menjelang, ayah si kembar Jordan dan Jennifer itu berkeliling dari lubuk ke lubuk, ibarat menyampaikan salam selamat pagi pada 1.000 cupang kesayangan. Selang sesaat ketika matahari sepenggalah naik, kegiatan menjemur cupang pun menjadi rutinitas.

Hasilnya, beragam piala di berbagai kontes sukses diboyong ke rumahnya. Ibarat cahaya kemenangan yang tak pernah meredup. Di penghujung April 2005, ke-16 cupang terbaiknya meraih gelar bergengsi saat kontes ACE Beta dan PPHP Cengkareng. Halfmoon, crowntail, plakat, dan doubletail andalannya sanggup mengandaskan lebih dari 300 cupang saingan.

Kejayaan Ricky Senjaya terulang saat kontes cupang Plaza Pangrango Mei 2005 berlangsung. Halfmoon warna dasar terang kesayangannya meraih juara pertama di kelas itu. Selang sebulan, Juni 2005, kontes cupang Trubus Agro Expo 2005 seakan digelar untuk mengukuhkan kesempurnaan cupang hiasnya. Maskot kebanggaan mendapat gelar juara 1 di kontes itu.

Gelar grand champion sekaligus juara umum diraih 2 bulan setelahnya saat ajang kontes cupang INBS 2005 dilangsungkan Agustus 2005. Itulah kisah sukses yang seakan tanpa akhir. Wajar, bila kini puluhan piala, plakat, dan sertifikat tersusun rapi di sudut rumahnya.

Betina terbaik
?Bangga saat menyaksikan cupang saya dinobatkan sebagai pemenang,? ujar kelahiran 17 Juli 1972. Itu yang menjadi motivasinya untuk merawat cupang menjadi jawara. Tak heran bila pekerjaan utamanya sebagai pengusaha heavy equipment dan peralatan broadcast kerap terbengkalai demi cupang.

Untuk menghasilkan ikan jawara, suami Dewi Kartika itu sangat selektif memilih indukan. Induk betina harus yang terbaik. ?Sebab hanya betina terbaik yang sanggup menghasilkan anakan bagus,? ujar bungsu dari 6 bersaudara itu. Selain itu kondisi indukan dan corak menjadi faktor penting yang menentukan kualitas anakan.

Wajar bila alumnus Akademi Komputer Bina Nusantara itu getol mendatangkan induk Betta splendens berkualitas dari Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand. Meski begitu Ricky tetap memperhitungkan indukan lokal bermutu tinggi alias sempurna:sirip tubuh dan coraknya.

Saat kontes hampir tiba, pemilik perusahaan PT Senjaya Utama itu meluangkan waktu ekstra. Sebelum menyambangi kantor, ia menyempatkan waktu memeriksa kondisi cupang yang akan bertanding. Memastikan mental dan kesehatan ikan dalam kondisi normal. ?Itu rutin saya lakoni sendiri,? tuturnya. Wajar jika kondisi ikan sangat prima kala turun ke medan laga.

Jutaan
Meraih prestasi tertinggi bukan akhir perjalanan Ricky Senjaya dalam dunia cupang. ?Justru saat kontes banyak kesenangan yang bisa dinikmati,? ungkap pria berkulit putih itu. Kala kontes berlangsung ia bisa mengukur kualitas ternakan betta yang dihasilkan. Pantas bila berkeliling ke berbagai pelosok kota untuk sekadar ikut kontes pun jadi agenda pria yang menikah pada 1998 itu.

Kegiatan itu sama sekali tak pernah ia impikan. Awalnya rumah Ricky dipenuhi beragam jenis maskoki:oranda, ranchu, hingga lion head. Namun, perjumpaannya dengan cupang serit di seputaran jalan Kartini, Jakarta, seakan mengubah segalanya. Itu terjadi di awal 2000. ?Keindahan ekor serit saat ngedok sangat memikat,? ujarnya. Kala itulah titik tolak kecintaannya pada ikan betta dimulai.

Terbersit di benak untuk membawanya pulang dan memperbanyak ikan itu. Tak tanggung-tanggung 50 ekor pun diboyong ke rumah. Belum puas dengan itu perburuan ke negeri Paman Sam dan Singapura dilakoninya. Bukan hanya bakalan berharga ratusan ribu rupiah, cupang siap kontes dengan bandrol Rp3-juta -Rp5-juta/ekor dibeli. Ia pun mulai belajar memperbanyak cupang secara otodidak.

Namun kegagalan menghampiri hingga lebih dari 100 kali. Untungnya semangat untuk terus mencoba tak pernah surut. Pengalaman itu kini berbuah manis. Kualitas anakan hasil ternakkan Ricky tak diragukan lagi. Meski begitu, kelahiran 33 tahun silam itu enggan menjual cupang terbaiknya. ?Saya ternak untuk kepuasan sendiri sekaligus pasokan untuk kontes,? ucap penyuka halfmoon dan plakat itu.

Mania cupang
Kini kemaniakan Ricky pada cupang hias sudah tak diragukan lagi. Ikan laga hias itu seakan telah ?meracuni ? hidupnya. ?Kalau lagi asyik sampai jam 2 pagi saya masih utak-atik cupang,? ujar kelahiran Jakarta itu. Saking gandrungnya, jatah waktu bersama anak-anak sering terganggu. ?Saya urus cupang, sampai-sampai yang mengurus anak saya malah babby sitter,? kelakarnya.

Maklum koleksinya bukan 10 -20, melainkan hampir 1. 000 ekor. Meski yang menurutnya terbaik hanya 700 ekor. Wajar bila gelagat itu membuat hatinya waswas akan kehilangan kedekatan dengan putra-putrinya. Sejak itulah 2 pegawai direkrut untuk membantu merawat sang klangenan.

Tak melulu kesenangan yang ia petik dari cupang. Cerita sedih sempat dialami saat musim pencaroba 2004. Seluruh cupang dalam 1 lubuk, mati terserang virus. Enggan berlama-lama bersedih, ia kembali berburu ikan betta terbaik di negeri Gajah Putih. Dana Rp30-juta untuk membeli dan mendatangkan cupang ke lubuknya pun mesti direlakan. Selepas tragedi itu, kemenangannya di setiap kontes sepanjang 2005 menjadi bukti keseriusan menangani cupang.

Kini, namanya kian berkibar sebagai sesepuh cupang hias nusantara. Cintanya pada cupang bukan ala kadarnya. ?Bagi saya cupang seperti anak sendiri,? katanya. Sebab menurutnya cupanglah tempat curahan melepas stres setelah menyelesaikan segudang pekerjaan. (Hanni Sofia)

Posted in yang terbaru on January 8, 2008 by bengkulu25

kura-kuraku.jpg06.jpg salah satu aset negara kita yang harus di jaga,bener gak…????

tanaman hias

Posted in tanaman hias on January 8, 2008 by bengkulu25

ahhhhhh.jpg memang sangat indah bunga ini tapi sayang gak bisa di miliki lantaran bunga ini di lindungi pemerintah.he…..he….he….!!!!